Selasa, 26 April 2016
Rabu, 20 April 2016
Kamis, 14 April 2016
Legenda Asal Mula Gua Ngerong
Legenda
Asal Mula Gua Ngerong
Diperkirakan
sekitar 2000 tahun lalu berdirilah sebuah kerajaan Gumenggeng yang berpusat di dukuh Gumeng, Desa
Banjaragung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, yang dipimpin seorang raja
bernama Raden Arya Bangah, yaitu
putra dari Kyai Gede Lebe Lontang.
Karena
berada di pegunungan kapur, kerajaan Gumenggeng mengalami kesulitan mengakses
sumber air terlebih saat musim kemarau, sehingga masyarakatnya acapkali dilanda
paceklik dan kekeringan panjang.
Hal inilah yang menggerakkan Arya Bangah untuk melakukan lelana
brata atau
laku batin demi mendapatkan petunjuk dari
dewata. Selanjutnya
ia memperoleh petunjuk yang mengatakan bahwa bila ada yang sudi bersemedi di
puncak gunung (saat ini bernama Desa Andhong), maka Kerajaan Gumenggeng, akan
selamat dari kekeringan. Oleh karenanya Arya Bangah
mengadakan sayembara, dan bagi yang bersedia akan dihadiahi tanah luas.
Mendengar
sayembara ini, muncullah orang yang bersedia melakoni persyaratan, yaitu Kyai Jala
Ijo. Sesampai
di bukit, sang kyai bertapa mengheningkan cipta; mandeng pucuking grana,
sedakep saluku tunggal, nutup babahan hawa sanga, muji marang Dzat kang murbeng
wisesa untuk mendapatkan bisikan gaib.
Hingga akhirnya Kyai Jala Ijo
mendapat petunjuk untuk menyungkil tanah di sebuah tempat yang masih merupakan
wilayah kerajaan. Tak pelak Kyai Jala
Ijo kemudian menancapkan tongkatnya dan mencungkil tanahnya.
Alkisah tanah tersebut berhasil mengeluarkan air dan berubah
menjadi celah (gua) yang berbentuk menyerupai rong (terowongan atau lubang),
yang kemudian diberi nama Gua Ngerong.
Obyek Wisata Gua Ngerong
Obyek
wisata Gua Ngerong berupa sungai yang menuju ke sebuah gua, dimana konon gua
ini bisa tembus sampai Kabupaten Tuban yang di dalamnya juga dihuni sebuah
makhluk sangat besar namun tak nampak
jelas. Sedangkan di sungai dalam goa hidup
dan berkembang biak pula ikan-ikannya, beberapa di antaranya berjenis nila,
mujair, gurami, dan lele. Ukuran rata-rata sebesar telapak tangan, namun ada
pula yang panjangnya bisa mencapai ukuran lengan tangan orang dewasa.
·
Kelelawar
Goa
Ngerong yang berdiameter tiga meter ini dari kejauhan tampak berwarna hitam di
beberapa bagiannya, yang merupakan warna dari ribuan ekor kelelawar jenis Rousettus spdan Rhinolopus sp.
Jenis kelelawar itu adalah yang hidup berkoloni dan bergelantungan di dinding
dan menghasilkan bau menyengat akibat adanya kotoran yang terdapat pada
berbagai tempat .
·
Ikan
Di
aliran sungai yang memiliki kedalaman 30 cm di bagian dangkal dan sekitar 1
meter pada bagian terdalamnya ini ikan-ikan bisa berkembangbiak dengan baik.
Sehingga dari permukaan air yang jernih juga kita bisa
memanjakan mata dengan melihat tingkah polah ikan yang hilir mudik mengejar
makanan .
·
Bulus Putih
Di
dalam gua juga dihuni beberapa ekor bulus (semacam penyu) berwarna putih yang
oleh warga dijuluki dengan nama Sanggem, Poleng, dan Menik. Ada yang unik dari satwa berkarapas (bertempurung
keras) itu, yaitu ketidaktakutannya untuk bergerak mendekat bila dipanggil
namanya dan diberi pakan roti.
·
Penjual klentheng, Roti, dan Jagung Brondong
Pengunjung
bisa memberi makan ikan berupa klentheng (biji buah kapuk), roti, dan jagung
brondong yang dijual seharga seribu sampai dua ribu
rupiah. Apabila klentheng, roti atau jagung
brondong disebar, maka dalam hitungan detik ikan-ikan akan mendekat dan saling
berebut pakan.
·
Mitos Dari Sudut Pandang Ilmiah
Keberadaan
ikan yang hilir mudik di sungai tentu menggoda minat untuk mengambil dengan
cara memancing atau menjala, akan tetapi hal tersebut tidak berlaku di Gua
Ngerong. Tak ada seorang pun yang berani mengusik karena keberadaan ikan-ikan
tersebut dikeramatkan oleh warga setempat Dan apabila ada yang berani melanggar
pantangan, sangat diyakini orang itu akan mendapat musibah.
Minimal ia akan didatangi penunggu sungai, meminta supaya ikan tersebut
dikembalikan ke sungai.
Mungkin
ini hanya sebatas mitos saja, namun apabila ditilik secara ilmiah, mitos
tersebut juga dapat dijelaskan secara rasional. Makanan utama ikan adalah
kotoran kelelawar yang banyak mengandung zat NH3, sedangkan amonia sangat
berbahaya jika masuk ke dalam tubuh. Jadi, sangat logis bila ada orang yang
memakan ikan dari sungai ini akan berujung pada kematian. Di
lain sisi, mitos ini memiliki sisi baik; menjadi pagar betis alami yang
melindungi kelestarian ikan dan bulus putih dari pancing dan jaring manusia.
Ampo
Ampo adalah makanan yang terbuat
dari tanah liat yang
berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur,
terutama wilayah Tuban. Bahan dasar makanan ini murni terbuat dari tanah liat
tanpa ada campuran bahan apapun. Ampo
biasanya dikonsumsi sebagai makanan ringan atau camilan, terutama digemari oleh kalangan wanita yang
sedang hamil. Kebiasaan
makan lempung ini
disebut juga dengan geofagi, dilakukan oleh beberapa masyarakat di belahan
dunia, biasanya dimiliki oleh orang yang tinggal di daerah tropis dan hangat. Kebiasaan ini banyak dimiliki oleh
masyarakat dari berbagai negara di dunia, meski sebagian besar negara yang
memiliki kebiasaan memakan tanah liat ini tidak pernah mengakuinya.
Mitos
Makanan dari tanah liat
yang diberi nama "Ampo" ini sudah menjadi makanan tradisional yang
dipercaya oleh masyarakat di Pulau Jawa, terutama masyarakat di Jawa Tengahdan Jawa Timur dipercaya dapat menguatkan sistem pencernaan.
Bahkan memakan tanah liat juga dipercaya sebagai obat yang dapat mengobati
beberapa macam penyakit.
Keuntungan
Sebuah studi menyebutkan
bahwa ternyata tanah liat atau lempung yang steril tersebut memiliki efek
menyamankan perut dan membantu melindungi dari serangan virus dan bakteri. Tanah
liat juga bisa mengikat hal yang berbahaya seperti mikroba, patogen dan virus.
Sehingga lempung yang dimakan itu bisa menjadi semacam pelindung, semacam
masker lumpur untuk usus.
Kerugian
Ada risiko yang jelas dalam
konsumsi tanah liat yang terkontaminasi oleh kotoran hewan atau manusia,
khususnya risiko dari telur parasit, seperti cacing gelang yang dapat tinggal selama bertahun-tahun di
dalam tanah dan dapat menimbulkan masalah. Juga dapat meningkatkan risiko
terjangkit Tetanus. Namun, risiko ini umumnya sudah dipahami oleh
sebagian besar masyarakat atau suku yang mengonsumsi tanah liat. Kegemaran
anak-anak untuk terlibat dalam mengonsumsi ampo membuat mereka lebih rentan
terhadap infeksi cacing. Bahaya lain yang terkait dengan
mengonsumsi tanah liat mencakup kerusakan enamel gigi, menelan berbagai bakteri, berbagai bentuk pencemaran tanah, dan obstruksi usus.
Namun proses pengolahan tanah liat yang cukup bagus dengan cara memasak atau
dipanggang dapat mengurangi risiko tersebut.
Langganan:
Komentar (Atom)



