Kamis, 14 April 2016

Legenda Asal Mula Gua Ngerong

Legenda Asal Mula Gua Ngerong

Diperkirakan sekitar 2000 tahun lalu berdirilah sebuah kerajaan Gumenggeng yang berpusat di dukuh Gumeng, Desa Banjaragung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, yang dipimpin seorang raja bernama Raden Arya Bangah, yaitu putra dari Kyai Gede Lebe Lontang.
Karena berada di pegunungan kapur, kerajaan Gumenggeng mengalami kesulitan mengakses sumber air terlebih saat musim kemarau, sehingga masyarakatnya acapkali dilanda paceklik dan kekeringan panjang.            Hal inilah yang menggerakkan Arya Bangah untuk melakukan lelana brata atau laku batin demi mendapatkan petunjuk dari dewata.           Selanjutnya ia memperoleh petunjuk yang mengatakan bahwa bila ada yang sudi bersemedi di puncak gunung (saat ini bernama Desa Andhong), maka Kerajaan Gumenggeng, akan selamat dari kekeringan.     Oleh karenanya Arya Bangah mengadakan sayembara, dan bagi yang bersedia akan dihadiahi tanah luas.
Mendengar sayembara ini, muncullah orang yang bersedia melakoni persyaratan, yaitu Kyai Jala Ijo. Sesampai di bukit, sang kyai bertapa mengheningkan cipta; mandeng pucuking grana, sedakep saluku tunggal, nutup babahan hawa sanga, muji marang Dzat kang murbeng wisesa untuk mendapatkan bisikan gaib.         Hingga akhirnya Kyai Jala Ijo mendapat petunjuk untuk menyungkil tanah di sebuah tempat yang masih merupakan wilayah kerajaan.        Tak pelak Kyai Jala Ijo kemudian menancapkan tongkatnya dan mencungkil tanahnya.      Alkisah tanah tersebut berhasil mengeluarkan air dan berubah menjadi celah (gua) yang berbentuk menyerupai rong (terowongan atau lubang), yang kemudian diberi nama Gua Ngerong.

Obyek Wisata Gua Ngerong

Obyek wisata Gua Ngerong berupa sungai yang menuju ke sebuah gua, dimana konon gua ini bisa tembus sampai Kabupaten Tuban yang di dalamnya juga dihuni sebuah makhluk sangat besar namun tak nampak jelas.       Sedangkan di sungai dalam goa hidup dan berkembang biak pula ikan-ikannya, beberapa di antaranya berjenis nila, mujair, gurami, dan lele. Ukuran rata-rata sebesar telapak tangan, namun ada pula yang panjangnya bisa mencapai ukuran lengan tangan orang dewasa.

·         Kelelawar

Goa Ngerong yang berdiameter tiga meter ini dari kejauhan tampak berwarna hitam di beberapa bagiannya, yang merupakan warna dari ribuan ekor kelelawar jenis Rousettus spdan Rhinolopus sp.     Jenis kelelawar itu adalah yang hidup berkoloni dan bergelantungan di dinding dan menghasilkan bau menyengat akibat adanya kotoran yang terdapat pada berbagai tempat .

·         Ikan

Di aliran sungai yang memiliki kedalaman 30 cm di bagian dangkal dan sekitar 1 meter pada bagian terdalamnya ini ikan-ikan bisa berkembangbiak dengan baik. Sehingga dari permukaan air yang jernih juga kita bisa memanjakan mata dengan melihat tingkah polah ikan yang hilir mudik mengejar makanan .

·         Bulus Putih

Di dalam gua juga dihuni beberapa ekor bulus (semacam penyu) berwarna putih yang oleh warga dijuluki dengan nama Sanggem, Poleng, dan Menik.  Ada yang unik dari satwa berkarapas (bertempurung keras) itu, yaitu ketidaktakutannya untuk bergerak mendekat bila dipanggil namanya dan diberi pakan roti.

·         Penjual klentheng, Roti, dan Jagung Brondong

Pengunjung bisa memberi makan ikan berupa klentheng (biji buah kapuk), roti, dan jagung brondong yang dijual seharga seribu sampai dua ribu rupiah.      Apabila klentheng, roti atau jagung brondong disebar, maka dalam hitungan detik ikan-ikan akan mendekat dan saling berebut pakan.

·         Mitos Dari Sudut Pandang Ilmiah

Keberadaan ikan yang hilir mudik di sungai tentu menggoda minat untuk mengambil dengan cara memancing atau menjala, akan tetapi hal tersebut tidak berlaku di Gua Ngerong. Tak ada seorang pun yang berani mengusik karena keberadaan ikan-ikan tersebut dikeramatkan oleh warga setempat Dan apabila ada yang berani melanggar pantangan, sangat diyakini orang itu akan mendapat musibah.     Minimal ia akan didatangi penunggu sungai, meminta supaya ikan tersebut dikembalikan ke sungai.

Mungkin ini hanya sebatas mitos saja, namun apabila ditilik secara ilmiah, mitos tersebut juga dapat dijelaskan secara rasional. Makanan utama ikan adalah kotoran kelelawar yang banyak mengandung zat NH3, sedangkan amonia sangat berbahaya jika masuk ke dalam tubuh. Jadi, sangat logis bila ada orang yang memakan ikan dari sungai ini akan berujung pada kematian.    Di lain sisi, mitos ini memiliki sisi baik; menjadi pagar betis alami yang melindungi kelestarian ikan dan bulus putih dari pancing dan jaring manusia. 
Ampo



Ampo adalah makanan yang terbuat dari tanah liat yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur, terutama wilayah Tuban. Bahan dasar makanan ini murni terbuat dari tanah liat tanpa ada campuran bahan apapun. Ampo biasanya dikonsumsi sebagai makanan ringan atau camilan, terutama digemari oleh kalangan wanita yang sedang hamil. Kebiasaan makan lempung ini disebut juga dengan geofagi, dilakukan oleh beberapa masyarakat di belahan dunia, biasanya dimiliki oleh orang yang tinggal di daerah tropis dan hangat. Kebiasaan ini banyak dimiliki oleh masyarakat dari berbagai negara di dunia, meski sebagian besar negara yang memiliki kebiasaan memakan tanah liat ini tidak pernah mengakuinya.

Mitos
Makanan dari tanah liat yang diberi nama "Ampo" ini sudah menjadi makanan tradisional yang dipercaya oleh masyarakat di Pulau Jawa, terutama masyarakat di Jawa Tengahdan Jawa Timur dipercaya dapat menguatkan sistem pencernaan. Bahkan memakan tanah liat juga dipercaya sebagai obat yang dapat mengobati beberapa macam penyakit.

Keuntungan
Sebuah studi menyebutkan bahwa ternyata tanah liat atau lempung yang steril tersebut memiliki efek menyamankan perut dan membantu melindungi dari serangan virus dan bakteri. Tanah liat juga bisa mengikat hal yang berbahaya seperti mikroba, patogen dan virus. Sehingga lempung yang dimakan itu bisa menjadi semacam pelindung, semacam masker lumpur untuk usus.

Kerugian
Ada risiko yang jelas dalam konsumsi tanah liat yang terkontaminasi oleh kotoran hewan atau manusia, khususnya risiko dari telur parasit, seperti cacing gelang yang dapat tinggal selama bertahun-tahun di dalam tanah dan dapat menimbulkan masalah. Juga dapat meningkatkan risiko terjangkit Tetanus. Namun, risiko ini umumnya sudah dipahami oleh sebagian besar masyarakat atau suku yang mengonsumsi tanah liat. Kegemaran anak-anak untuk terlibat dalam mengonsumsi ampo membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi cacing. Bahaya lain yang terkait dengan mengonsumsi tanah liat mencakup kerusakan enamel gigi, menelan berbagai bakteri, berbagai bentuk pencemaran tanah, dan obstruksi usus. Namun proses pengolahan tanah liat yang cukup bagus dengan cara memasak atau dipanggang dapat mengurangi risiko tersebut.